Stigma Negatif Kwamki Lama

“APA? Mau Kwamki Lama? Sebaiknya jangan mba. Kalaupun mau ke sana, jangan pergi sendiri. Itu wilayah rawan di sini (Timika, red).”

Sunarti Sain (Fajar Group)

Begitu reaksi Enda, salah seorang karyawan Hotel Cendrawasih 66 saat  saya menyampaikan rencana ‘jalan-jalan’ ke Kampung Kwamki Lama, Rabu 1 Februari lalu. Bagi Enda dan kebanyakan  warga  Timika, menyebut kata Kwamki Lama selalu identik dengan hal-hal negatif. Dari tingginya tingkat kriminalitas yang terjadi di wilayah itu sampai perang suku. Terakhir, perang suku terjadi Juni 2016.

Bocah Suku Amungme berjalan sendiri di tengah jalan yang lengang./Photo by Sunarti Sain.
Bocah Suku Amungme berjalan sendiri di tengah jalan yang lengang./Photo by Sunarti Sain.

Toh, stigma negatif yang terlanjur melekat ketika menyebut Kwamki Lama, tak menyurutkan semangat kami, tim Timika WAN IFRA  untuk bertandang. Paling tidak melihat langsung kondisi masyarakat di kecamatan atau Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika.

Bersama Palupi dari Kompas.Com, dan Gadi Makitan dari Tempo, kami menuju Kwamki Lama ditemani jurnalis senior dari Salam Papua, Yulius, yang akrab disapa Om Yul. Mobil rental yang kami tumpangi berjalan pelan keluar dari Kota Timika menuju arah Bandara Mozes Kilangin.  Ya, wilayah Kwamki Lama letaknya tidak jauh dari bandara yang dibangun PT Freeport Indonesia.

Sepintas, Kwamki Lama sama dengan kampung-kampung lain di Sulawesi. Bedanya, Kwamki Lama jauh lebih sepi, lengang.  Hanya warga asli yang tampak lalu lalang. Mobil dan motor dari luar Kwamki juga  jarang yang melintas. Driver asal Sulsel, Syawir, yang membawa kami keliling mengaku ia pun jarang masuk di Kwamki Lama. “Siang hari saja orang takut masuk. Apalagi malam,” ujarnya.

Rumah-rumah di kawasan ini nyaris seragam. Rumah papan yang dengan arsitektur yang sama.  Ada pasar  dan kios-kios yang diberi pengaman kawat besi, ada sekolah, dan gereja. Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan Kwamki yang sudah mulus, Om Yul bercerita bahwa rumah-rumah itu dibangun oleh PT Freeport untuk suku Amungme yang turun ke dataran rendah.

Selain fasilitas rumah, suku Amungme yang ada di Kwamki juga mendapatkan tunjangan 1 persen per tahun yang diberikan PT Freeport melalui Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme (Lemasa) dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Komoro (LPMAK).

Kami sempat menyapa warga yang tampak duduk depan rumah. Awalnya ada kekhawatiran terjadi penolakan melihat kami sebagai pendatang di kampung itu. Pun untuk mengajak mereka berfoto kami cukup berhati-hati. Om Yul berhasil meyakinkan seorang Pace (bapak) untuk berbincang sebentar dan berfoto bersama.

“Biasanya mereka minta uang atau sekadar rokok. Seperti itulah kondisi di sini. Masih ada masyarakat yang curiga dengan setiap pendatang yang masuk di sini,” ujar Om Yul. ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s