Stasiun RRI di ujung Skouw

Oleh Adi Marsiela
MENGAKHIRI perjalanan di Jayapura, saya bersama Arientha Primanita dari The Jakarta Post berkesempatan mengunjungi tapal batas Indonesia-Papua Nugini di Skouw, Jayapura.
Dalam perjalanan ini, kami ditemani Alfonsa Wayap, jurnalis Majalah Lani dan Wawan, pengemudi sekaligus pengusaha rental mobil yang lahir dan besar di Waena. Selama dua jam perjalanan Alfonsa sempat menceritakan kebiasaannya semasa kecil di daerah perbatasan itu. Sesekali, Wawan –yang sejak SMP sudah menjelajahi kawasan itu dengan sepeda motor–menimpali.
“Saya sempat mancing dan lihat buaya di sini,” kata Wawan merujuk pada satu-satunya jembatan besi sepanjang 50 meter yang ada di perlintasan jalan ini.
Alfonsa juga sempat menunjukkan lokasi ditemukannya jenazah Ketua Presidium Dewan Papua Dortheys Hiyo Eluay pada tanggal 10 November 2001 silam. Bersama warga lain dari sekitar Muara Tami, Alfonsa mencari tahu kebenaran kabar tersebut. “Posisi mobilnya masuk ke dalam situ, tidak ada supirnya,” kata Alfonsa sembari menunjuk ke semak belukar di sisi kanan jalan saat menuju ke Skouw.
Dortheys Hiyo Eluay atau lebih dikenal Theys Hiyo Eluay ditemukan meninggal dengan bekas jeratan di lehernya. Hingga saat ini, tidak ada kabar mengenai pengemudi mobil yang menemani Theys di saat-saat terakhirnya. Aktivis berkharisma ini dimakamkan di sebuah lapangan yang tepat berada di seberang jalan masuk Bandara Sentani, Jayapura.
Kedatangan kami pada Jumat, 3 Februari 2017 ternyata menarik perhatian. Setidaknya, buat dua pria berperawakan tegap dan berpakaian layaknya masyarakat sipil.
Sejak kami melewati perbatasan Indonesia yang dijaga tentara dari Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan, kedua pria dengan karakter wajah pendatang ini seperti tidak lepas mengikuti kami hingga ke warung yang ada di bagian bawah bebatuan karang. Mungkin mereka tidak ikut turun karena yang empunya warung di sana mewajibkan setiap orang membayar retribusi masuk Rp10 ribu.
Saat kami berfoto di depan kantor imigrasi, mereka juga ada di sana. “Mereka pendatang bilangnya, menginap di @home hotel. Tapi bawa mobilnya sendiri, kaya sudah sering ke perbatasan kalau begitu,” kata Wawan yang sempat berbincang dengan keduanya.
Setiap kendaraan yang memasuki kawasan perbatasan harus berhenti dulu di pos pemeriksaan. “Mau jalan-jalan lihat perbatasan,” kata Wawan kepada tentara sebelum mengeluarkan KTP-nya.
Melihat ada stasiun produksi perbatasan RRI Skouw-Papua Nugini di seberang pos penjagaan, saya pun memotretnya. Tidak ada kegiatan apa-apa pada dua bangunan kayu di depan saya.
Kantor perbatasan RI-PNG yang belum diresmikan. /Photo by Adi Marsiela.
Kantor perbatasan RI-PNG yang belum diresmikan. /Photo by Adi Marsiela.
Yang satu lebih terbuka dengan kayu-kayu yang tersusun hingga ketinggian satu meter. Bagian atasnya dibiarkan terbuka dan langsung berhadapan dengan atapnya. Bangunan satunya lagi lebih menyerupai stasiun untuk penyiaran karena tertutup. Maklum stasiun radio butuh ruangan kedap suara biasanya. Tampak kain merah putih digantungkan hingga membentuk gelombang di kedua bangunan itu.
Pintunya tertutup.
Tapi tak apalah. Saya foto saja buat kenang-kenangan dan pengingat ternyata lembaga penyiaran publik itu tetap berupaya melayani warga negara yang ada di bagian ujung timur Indonesia.
Setelah saya masuk mobil, tanpa diduga tanpa dinyana, tiba-tiba saja seorang pria berambut gondrong menghampiri Wawan yang tengah memegang kemudi.
“Tadi memotret buat keperluan apa ya? Saya kerja di sini,” kata pria itu.
Melihat Wawan yang keheranan, saya pun menjawab. “Buat saya kasih tahu ke teman yang kerja di RRI Jayapura, kalau saya sudah sampai perbatasan mas,” begitu kata saya.
Dari Skouw, kampung pertama di Indonesia dari Papua Nugini di jalur Jayapura, kami beristirahat makan siang di salah satu tempat pemancingan. Dua orang yang sama seperti di perbatasan ternyata ada juga di pemancingan itu. Mungkin sebuah kebetulan belaka karena dari sekian rute jalan menuju Jayapura atau Abepura dan pilihan tempat makan, kami bisa memilih tempat yang sama.
Menurut Alfonsa, kejadian seperti itu merupakan sebuah hal yang biasa terjadi saat ada orang-orang baru di Jayapura. Hal itu dia sampaikan seiring intuisinya sebagai jurnalis yang kerap melakukan peliputan ke berbagai daerah di Papua.
“Mungkin juga mereka lagi persiapan buat kedatangan Jokowi,” ungkap Alfonsa. ***
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s