Potret Tana Beru di Merauke

Oleh Anita Wardana 

 

PANTAI Lampu Satu sudah menjadi icon pariwisata di Merauke. Lokasinya tak jauh dari pusat Kota Merauke. Namun, ada hal menarik di pantai yang menghadap ke lautan Arafura ini.

Di pantai ini terdapat galangan pembuatan perahu, tak jauh berbeda dengan Tana Beru di Bulukumba, Sulawesi Selatan yang menjadi pusat pembuatan Perahu Phinisi. Tapi, disini mereka hanya membuat perahu Jolloro.

Ternyata, para pembuat perahu di Pantai Lampu Satu ini adalah warga Tana Beru yang merantau ke Merauke. Di pinggiran Pantai Lampu Satu ini pun banyak berdiri rumah-rumah panggung khas Bugis-Makassar.

Proses pembuatan perahu di Tana Beru, Merauke. /Anita Wardana.
Proses pembuatan perahu di Tana Beru, Merauke. /Anita Wardana.

Suku Bugis-Makassar memang sudah dikenal sebagai perantau dan pelaut ulung. Merantau pun dipercaya sebagai satu fase kehidupan bagi masyarakat Bugis-Makassar. Mereka rela menantang samudera untuk mencari penghidupan.

Rasuddin, salah satunya. Ia sudah merantau ke Merauke selama 13 tahun ini. Selain membantu membuat perahu, ia adalah nakhoda kapal nelayan yang mencari ikan di Laut Arafura.

Sekitar tahun 2004, Rasuddin membawa istri dan anaknya menyusul ayahnya yang lebih dahulu merantau ke Merauke dan bekerja sebagai penjual ikan. Status Udin pun kini telah menjadi warga Merauke dan sudah ber-KTP Merauke.

Udin tak sendiri, saat melaut ia pergi bersama sekitar lima nelayan lainnya. Selama dua bulan, bahkan tiga bulan mereka tinggal di tengah laut, menebar jaring dan mengumpulkan ikan-ikan.

Ikan yang sering terperangkap di jaring milik mereka adalah jenis Kakap dan Kuro. Hasil tangkapannya tersebut pun dijual atau diolah menjadi ikan asin.

“Disini lebih gampang cari uang. Sekali melaut, kita bisa dapat 10 ton ikan,”katanya saat sibuk berjibaku dengan perahu Jolloro yang sedang ia buat bersama kerabatnya.

Sementara, pembuat perahu lainnya, Ali mengaku baru satu bulan di Merauke. Ia juga sudah memboyong anak istrinya.

Ali juga warga Tana Beru yang memutuskan pindah ke Merauke karena dipanggil kerabatnya yang lebih dahulu tinggal di Merauke, yang juga sebagai pembuat perahu.

Pakai kayu dari Jagebob

Pemilik galangan kapal di Pantai Lampu Satu, Muhammad Arsyad juga adalah warga Tana Beru, Bulukumba. Ia sudah berada di Merauke, sejak 2001 lalu.

Namun, Arsyad mengatakan, tak hanya warga Tana Beru, sejumlah warga dari Jeneponto dan Maros, dua kabupayen lain di Sulsel,  juga tinggal disana sebagai pembuat perahu.

Satu perahu Jolloro dibuat dua hingga tiga orang dan penyelesaiannya bisa memakan waktu hingga dua bulan.

Pembuatan perahu Jolloro memakai kayu yang diperoleh dari pedalaman Jagebob, salah satu distrik di Merauke. Satu perahu membutuhkan sekitar delapan kubik kayu.

“Kalau ukuran perahu sepanjang 13 meter ini menghabiskan Rp 60 juta hingga Rp 100 juta, termasuk jaringnya,”jelasnya. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s